Istilah CPG Dijelaskan, sebuah seri oleh Cyril Ovely
Traditional Trade mencakup outlet ritel kecil yang dimiliki secara independen, seperti toko kelontong, toko kirana, dan toko grocery keluarga, yang biasanya dilayani oleh distributor atau grosir, bukan langsung oleh manufaktur.
Traditional Trade adalah dunia ritel kecil. Inilah toko kelontong, toko grocery yang dikelola keluarga, dan outlet lingkungan yang beroperasi dengan teknologi minim, transaksi berbasis tunai, dan manajemen yang dijalankan langsung oleh pemiliknya. Secara individual kecil, namun secara agregat sangat besar.
Di India, Traditional Trade (toko kirana) menyumbang sekitar 85 persen dari seluruh outlet grocery. Di Indonesia, warung berjumlah jutaan. Di seluruh Afrika dan Asia Tenggara, toko independen kecil mendominasi lanskap ritel. Bahkan di pasar maju, convenience store independen tetap menjadi channel yang signifikan.
Traditional Trade adalah tempat volume tersembunyi. Setiap toko mungkin hanya menggerakkan beberapa case per minggu, namun jika dikalikan dengan jutaan outlet, agregatnya menjadi sangat besar. Tantangannya adalah melayani toko-toko ini secara menguntungkan.
Apa yang membuat Traditional Trade berbeda:
Bagi brand CPG, memecahkan tantangan Traditional Trade seringkali menjadi pembeda antara berhasil scale up atau justru stagnan. Brand yang berhasil menemukan cara melayani toko-toko kecil secara efisien di pasar berkembang akan membangun posisi pasar yang dominan.
Dua model untuk melayani Traditional Trade:
| Model | Cara Kerja | Paling Cocok Untuk |
|---|---|---|
| Van Sales | Driver/sales rep menjalankan rute harian sebanyak 30 hingga 50 toko, mengambil pesanan langsung di tempat, dan mengirimkan barang langsung dari truk saat itu juga | Rute perkotaan yang padat, kategori dengan frekuensi tinggi (minuman, snack) |
| Pre Sell | Sales rep mengunjungi toko untuk mengambil pesanan hari ini, van pengiriman memenuhi pesanan tersebut keesokan harinya. Rep tidak membawa stok. | Teritori yang lebih luas, range produk yang lebih beragam, area dengan kepadatan lebih rendah |
Hari yang khas bagi seorang van sales rep:
Rep memulai pukul 7 pagi dengan truk yang sudah dimuat (dipersiapkan semalam sebelumnya). Rute mencakup 40 toko dalam radius 15 km. Di setiap pemberhentian, rep memeriksa rak, mengobrol dengan pemilik toko, mengambil pesanan, menagih pembayaran untuk pengiriman sebelumnya, dan memuat produk baru dari truk. Rata-rata waktu per pemberhentian: 8 hingga 12 menit. Pada pukul 3 sore, rute selesai, uang tunai disetorkan, dan data disinkronkan ke sistem pusat.
Ekonominya bergantung pada kepadatan rute. Seorang van sales rep yang melayani 40 toko per hari di area urban yang padat akan menguntungkan. Rep yang sama yang mencakup 15 toko sepanjang 50 km jalan pedesaan justru merugi. Desain rute adalah segalanya.
Kesalahan #1: Menerapkan playbook Modern Trade pada Traditional Trade.
Planogram, joint business plan, dan pemesanan EDI tidak berfungsi di sini. Traditional Trade berjalan berdasarkan relasi, frekuensi, dan arsitektur kemasan yang tepat ukuran. Playbook-nya perlu sepenuhnya berbeda.
Kesalahan #2: Berusaha melayani setiap toko.
Tidak setiap toko kecil layak dikunjungi. Sebuah toko yang memesan satu case per bulan menghabiskan biaya layanan lebih besar daripada margin yang dihasilkannya. Segmentasikan outlet secara tegas dan fokuskan sumber daya pada yang menghasilkan return.
Kesalahan #3: Mengabaikan kapabilitas distributor.
Di sebagian besar pasar Traditional Trade, manufaktur bergantung pada distributor untuk melayani toko. Jika distributor memiliki manajemen armada yang buruk, tim penjualan yang lemah, atau tidak mengadopsi teknologi, eksekusi brand Anda akan terganggu. Manajemen distributor adalah kompetensi inti, bukan sekadar pelengkap.
Kesalahan #4: Menawarkan ukuran kemasan yang salah.
Toko kecil memiliki arus kas dan ruang rak yang terbatas. Kemasan isi 24 yang cocok di supermarket tidak akan laku di toko kirana. Brand membutuhkan SKU yang lebih kecil dan terjangkau, yang dirancang untuk ekonomi Traditional Trade.
Global: Traditional Trade ada di seluruh dunia namun mendominasi di pasar berkembang:
Brand-brand terkemuka memperlakukan Traditional Trade sebagai channel kelas utama, bukan sekadar pelengkap. Mereka berinvestasi dalam teknologi distributor (aplikasi SFA, optimasi rute, manajemen pesanan), merancang arsitektur kemasan khusus channel, dan menggunakan analitik data untuk mensegmentasi outlet dan memprioritaskan cakupan. Brand yang memenangkan Traditional Trade adalah mereka yang memudahkan pemilik toko kecil untuk menyetok, menjual, dan memesan ulang produk mereka.
Lighthouse menghubungkan distribusi, eksekusi, trade, dan supply ke dalam satu sistem yang dapat ditindaklanjuti oleh tim komersial Anda hingga level toko dan SKU.
Ajukan demo