Istilah CPG Dijelaskan, sebuah seri oleh Cyril Ovely
Secondary sales adalah penjualan dari distributor atau grosir ke toko ritel. Juga disebut distributor sell out, secondary sales mengungkapkan apakah produk benar-benar bergerak melalui channel menuju peritel, bukan hanya tertahan di gudang distributor.
Secondary sales mengukur apa yang dijual distributor ke peritel. Jika primary sales adalah apa yang dikirim manufaktur ke distributor, secondary sales adalah apa yang dikirim distributor ke toko. Di AS dan Inggris, istilah yang biasa dipakai adalah "sell out." Di India dan pasar berkembang, "secondary sales" adalah istilah standar yang digunakan.
Secondary sales penting karena mengungkapkan apakah primary sales benar-benar didukung oleh permintaan riil dari pasar. Jika primary sales kuat namun secondary sales lemah, produk sedang menumpuk di gudang distributor. Itulah yang disebut channel stuffing, dan hal ini berujung pada retur, produk kedaluwarsa, dan hubungan distributor yang rusak.
Di pasar yang dipimpin distributor (India, Asia Tenggara, Afrika, Amerika Latin), distributor adalah lapisan tengah yang krusial antara manufaktur dan peritel. Tim penjualan manufaktur menjual ke distributor (primary sales). Tim penjualan distributor menjual ke peritel (secondary sales). Peritel menjual ke konsumen (tertiary sales).
Rantai penjualan tiga tingkat:
| Level | Transaksi | Siapa yang Melaporkannya | Apa yang Ditunjukkannya |
|---|---|---|---|
| Primary Sales | Manufaktur → Distributor | ERP manufaktur | Pendapatan manufaktur |
| Secondary Sales | Distributor → Peritel | Catatan distributor | Permintaan channel, kesehatan distributor |
| Tertiary Sales | Peritel → Konsumen | Data POS (jika tersedia) | Permintaan konsumen yang sesungguhnya |
Sebagian besar perusahaan CPG di pasar berkembang sangat berfokus pada primary sales karena itulah pendapatan mereka. Namun secondary sales adalah indikator utama kesehatan channel. Kesenjangan yang terus melebar antara primary dan secondary sales menandakan masalah yang akan datang.
Skenario: Sebuah merek minuman melacak primary sales dan secondary sales selama 4 bulan:
| Bulan | Primary Sales (case) | Secondary Sales (case) | Rasio Primary:Secondary | Kesehatan Channel |
|---|---|---|---|---|
| Januari | 10.000 | 9.500 | 1,05:1 | Sehat |
| Februari | 12.000 | 10.000 | 1,20:1 | Perhatikan |
| Maret | 15.000 | 9.000 | 1,67:1 | Peringatan |
| April | 14.000 | 8.000 | 1,75:1 | Masalah |
Primary sales terus tumbuh, yang secara sekilas terlihat baik. Namun secondary sales justru menurun. Distributor membeli lebih banyak, tetapi menjual lebih sedikit ke peritel. Pada bulan April, distributor telah mengumpulkan inventori yang belum terjual dalam jumlah signifikan. Merek tersebut akan menghadapi pembatalan pesanan, keterlambatan pembayaran, dan hubungan distributor yang tegang pada bulan-bulan berikutnya.
Rasio primary terhadap secondary yang sehat biasanya berada di antara 1,0:1 dan 1,15:1 (dengan toleransi sedikit penumpukan inventori). Angka di atas 1,3:1 memerlukan investigasi. Di atas 1,5:1 adalah tanda bahaya.
Kesalahan #1: Hanya melacak primary sales.
Primary sales menunjukkan apa yang terjual oleh manufaktur, bukan apa yang benar-benar dikonsumsi pasar. Tanpa data secondary sales, Anda pada dasarnya buta terhadap kesehatan channel.
Kesalahan #2: Menggunakan target primary sales untuk mendorong perilaku.
Jika sales rep dan distributor hanya diberi insentif berdasarkan primary sales, mereka akan mendorong produk masuk ke channel terlepas dari permintaan yang sesungguhnya. Struktur insentif perlu menyeimbangkan metrik primary dan secondary.
Kesalahan #3: Tidak mengintegrasikan data secondary sales.
Banyak merek mengumpulkan data secondary sales secara manual (spreadsheet, panggilan telepon) dengan keterlambatan mingguan hingga bulanan. Pada saat data tersebut tiba, masalah inventori di channel sudah semakin parah. Pelacakan secondary sales secara real time atau mendekati real time sangatlah penting.
Kesalahan #4: Mencampuradukkan secondary sales dengan tertiary sales.
Secondary sales mengukur pergerakan dari distributor ke peritel. Tertiary sales mengukur pergerakan dari peritel ke konsumen. Keduanya sama-sama penting, namun menjawab pertanyaan yang berbeda. Secondary memberi tahu Anda tentang aliran channel; tertiary memberi tahu Anda tentang permintaan konsumen.
Global: Konsepnya ada di mana-mana, namun terminologinya bervariasi:
Merek-merek terkemuka di pasar yang dipimpin distributor mengintegrasikan data secondary sales ke dalam operasional harian mereka. Mereka memantau rasio primary-secondary berdasarkan distributor dan teritori, menetapkan alert saat rasio melampaui ambang batas yang sehat, dan menggunakan tren secondary sales untuk menyesuaikan target primary sales secara dinamis. Distributor scorecard mencakup kinerja secondary sales bersama OTIF dan kesehatan inventori. Hasilnya: rantai pasok yang digerakkan oleh permintaan (demand driven), bukan yang bersifat dorongan (push based).
Lighthouse menghubungkan distribusi, eksekusi, perdagangan, dan pasokan ke dalam satu sistem yang dapat langsung ditindaklanjuti oleh tim komersial Anda di tingkat toko dan SKU.
Minta demo