Istilah CPG Dijelaskan, sebuah seri oleh Cyril Ovely
SKU (Stock Keeping Unit) adalah pengidentifikasi unik yang diberikan kepada setiap varian produk yang berbeda dalam range sebuah brand CPG, memungkinkan pelacakan inventori, pengukuran penjualan, dan manajemen rantai pasok di tingkat produk individual.
SKU (Stock Keeping Unit) adalah unit fundamental identifikasi produk dalam CPG. Setiap varian produk yang berbeda mendapatkan SKU-nya sendiri: rasa yang berbeda, ukuran kemasan yang berbeda, jumlah isi yang berbeda. Jika sebuah item bisa dijual secara terpisah dengan barcode-nya sendiri, itu adalah sebuah SKU.
Sebuah brand mungkin memiliki 50 SKU di seluruh range-nya: 10 rasa dalam 5 ukuran kemasan. Setiap kombinasi adalah SKU yang berbeda dengan data penjualan, tingkat inventori, dan pelacakan distribusinya masing-masing.
SKU adalah unit atomik dari segala hal dalam CPG: pengukuran penjualan, manajemen inventori, pelacakan distribusi, desain planogram, dan analisis promosi. Setiap metrik yang Anda hitung dalam glosarium ini (ACV, TDP, velocity, market share) pada akhirnya dihitung di tingkat SKU lalu diagregasi ke atas.
Mengapa manajemen SKU itu penting:
Contoh: Struktur SKU sebuah brand kopi
| Merek | Varian | Ukuran Kemasan | Kode SKU | UPC/GTIN | Status |
|---|---|---|---|---|---|
| Alpha Coffee | Original | Toples 200g | AC-ORG-200 | 012345678901 | Aktif |
| Alpha Coffee | Original | Toples 400g | AC-ORG-400 | 012345678902 | Aktif |
| Alpha Coffee | Dark Roast | Toples 200g | AC-DRK-200 | 012345678903 | Aktif |
| Alpha Coffee | Dark Roast | Toples 400g | AC-DRK-400 | 012345678904 | Aktif |
| Alpha Coffee | Decaf | Toples 200g | AC-DEC-200 | 012345678905 | Di-delist |
Setiap baris adalah SKU yang berbeda. Decaf 200g di-delist setelah range review menunjukkan velocity-nya tidak cukup untuk membenarkan penggunaan ruang raknya. 4 SKU yang tersisa membentuk range aktif.
Kesalahan #1: Mencampuradukkan SKU dengan produk.
Sebuah "produk" bisa merujuk pada sebuah brand atau sub-brand. Sebuah SKU adalah varian spesifiknya. "Alpha Coffee" adalah sebuah brand. "Alpha Coffee Dark Roast 400g" adalah sebuah SKU. Presisi ini penting dalam data dan pengukuran.
Kesalahan #2: Membiarkan jumlah SKU bertambah tanpa tata kelola.
Setiap SKU baru menambah kompleksitas. Tanpa proses tata kelola SKU yang formal (yang mensyaratkan business case untuk SKU baru dan peninjauan rationalization secara berkala), range akan membengkak dan profitabilitas akan menurun.
Kesalahan #3: Tidak membedakan antara SKU yang terdaftar dan SKU yang aktif.
Sebuah SKU mungkin terdaftar dalam sistem peritel namun tidak benar-benar terjual. Bedakan antara SKU yang terdaftar (ada dalam sistem), SKU aktif (menghasilkan penjualan), dan SKU hantu (terdaftar namun tanpa pergerakan sama sekali).
Kesalahan #4: Menggunakan kode SKU yang berbeda di berbagai sistem.
Kode SKU manufaktur, nomor item peritel, dan barcode UPC/GTIN semuanya adalah pengidentifikasi yang berbeda untuk produk yang sama. Pemetaan di antara ketiganya sangat penting untuk integrasi data.
Global: Manajemen SKU bersifat universal, namun praktiknya bervariasi:
Brand-brand terkemuka memperlakukan manajemen SKU sebagai disiplin strategis. Mereka menjaga kerangka tata kelola SKU yang mensyaratkan business case untuk penambahan baru, melakukan rationalization review setiap kuartal untuk menghapus performer yang rendah, dan menggunakan data analitik untuk mengoptimalkan range mereka di setiap channel dan peritel. Tujuannya: jumlah SKU yang tepat, masing-masing berkontribusi secara bermakna terhadap kinerja brand.
Lighthouse menghubungkan distribusi, eksekusi, perdagangan, dan pasokan ke dalam satu sistem yang dapat langsung ditindaklanjuti oleh tim komersial Anda di tingkat toko dan SKU.
Minta demo