Istilah CPG Dijelaskan, sebuah seri oleh Cyril Ovely
UPC (Universal Product Code) atau GTIN (Global Trade Item Number) adalah pengidentifikasi numerik terstandardisasi secara global yang dicetak sebagai barcode pada setiap produk CPG, memungkinkan pemindaian point of sale, pelacakan inventori, dan identifikasi rantai pasok.
UPC dan GTIN adalah nomor barcode yang Anda lihat pada setiap produk di toko. UPC adalah standar barcode 12 digit yang digunakan terutama di AS dan Kanada. GTIN adalah standar global (dikelola oleh GS1) yang mencakup UPC, EAN (13 digit, digunakan di luar Amerika Utara), dan format lainnya.
Setiap varian produk yang berbeda mendapatkan GTIN uniknya sendiri. Toples kopi 200g dan toples 400g dari kopi yang sama memiliki GTIN yang berbeda. Identifikasi unik inilah yang membuat pemindaian POS, manajemen inventori, dan pengukuran data syndicated menjadi mungkin.
Tanpa GTIN, ritel modern tidak akan bisa berfungsi. Setiap kali kasir memindai sebuah produk, GTIN-nya dibaca dan sistem mencari harga, deskripsi, dan catatan inventorinya. Setiap kali Nielsen atau Circana mengumpulkan data penjualan peritel, mereka mengagregasi data scanner berdasarkan GTIN. Setiap kali gudang menerima kiriman, mereka memindai GTIN untuk mengonfirmasi apa yang tiba.
Hierarki GTIN:
| Format | Digit | Digunakan Di | Contoh |
|---|---|---|---|
| GTIN-12 (UPC-A) | 12 | AS, Kanada | 012345678901 |
| GTIN-13 (EAN-13) | 13 | Sisa dunia lainnya | 0012345678901 |
| GTIN-8 (EAN-8) | 8 | Kemasan kecil | 01234567 |
| GTIN-14 | 14 | Level case/karton | 10123456789012 |
Produk yang sama yang dijual di AS dan Eropa akan memiliki UPC (12 digit) sekaligus EAN (13 digit). Keduanya merepresentasikan produk yang sama; EAN hanyalah UPC dengan tambahan angka nol di depan.
Skenario: Sebuah brand meluncurkan produk baru dan perlu mengidentifikasikannya di seluruh sistem:
Jika ada langkah yang gagal, produk tidak bisa dipindai di POS, tidak bisa dilacak dalam inventori, atau tidak bisa diukur dalam data syndicated. Manajemen GTIN memang tidak glamor namun fundamental.
Kesalahan #1: Menggunakan kembali GTIN untuk produk yang berbeda.
Setelah sebuah GTIN ditetapkan untuk suatu produk, GTIN tersebut tidak boleh digunakan kembali untuk produk yang berbeda, bahkan jika produk aslinya sudah di-delist. Penggunaan kembali GTIN menyebabkan kerusakan data dalam sistem peritel dan pengukuran syndicated.
Kesalahan #2: Tidak memelihara tabel pemetaan GTIN.
Pemetaan antara kode SKU internal, nomor item peritel, dan GTIN akan melenceng seiring waktu ketika produk di-relist, dikemas ulang, atau diberi nomor baru. Tanpa pemeliharaan rutin, integrasi data akan rusak.
Kesalahan #3: Menggunakan GTIN yang berbeda untuk produk yang sama di pasar yang berbeda.
Jika sebuah produk memiliki UPC di AS dan EAN di Eropa, keduanya seharusnya mengarah ke GTIN yang sama. Menggunakan GTIN yang berbeda untuk produk yang sama akan memfragmentasi pengukuran dan menimbulkan kebingungan.
Kesalahan #4: Tidak mendaftarkan GTIN baru kepada penyedia pengukuran.
Jika Nielsen atau Circana tidak memiliki GTIN baru Anda dalam sistem mereka, penjualan Anda tidak akan terhitung dalam laporan syndicated. Selalu daftarkan GTIN baru kepada penyedia pengukuran sebelum peluncuran.
Global: GTIN adalah standar global namun format regional tetap ada:
Brand-brand terkemuka menjaga tata kelola GTIN yang ketat sebagai bagian dari manajemen master data mereka. Mereka memastikan setiap produk baru mendapatkan GTIN unik sebelum peluncuran, menjaga tabel pemetaan yang bersih antara pengidentifikasi internal dan eksternal, dan mendaftarkan semua GTIN kepada penyedia pengukuran dan mitra ritel. Hasilnya: aliran data yang bersih dari pabrik ke rak hingga laporan syndicated.
Lighthouse menghubungkan distribusi, eksekusi, trade, dan supply ke dalam satu sistem yang dapat ditindaklanjuti oleh tim komersial Anda hingga level toko dan SKU.
Ajukan demo