Istilah CPG Dijelaskan, sebuah seri oleh Cyril Ovely
Total Distribution Points menggabungkan seberapa luas produk Anda didistribusikan (ACV %) dengan seberapa dalam assortment-nya (average items carried) menjadi satu angka, memberi Anda gambaran lengkap tentang jejak distribusi Anda.
Total Distribution Points (TDP) mengukur distribusi dengan mengalikan persentase ACV Distribution Anda dengan rata-rata jumlah item yang disetok peritel. Jika Anda memiliki 70% ACV distribution dan peritel rata-rata menyetok 4 dari 8 SKU Anda, TDP Anda adalah 280 (70 × 4). Ini adalah metrik yang menangkap sekaligus di mana Anda terjual dan berapa banyak range Anda yang tersedia, semuanya dalam satu angka.
TDP adalah metrik distribusi yang benar-benar digunakan category manager dan sales director untuk benchmarking, karena metrik ini menceritakan kisah yang lebih lengkap dibandingkan ACV atau numeric distribution saja.
ACV distribution memberi tahu Anda berapa banyak pintu yang telah Anda lewati. Average items carried memberi tahu Anda seberapa dalam assortment Anda. Namun tak satu pun dari keduanya menceritakan kisah yang lengkap dengan sendirinya.
Sebuah merek dengan 90% ACV distribution tetapi hanya 1,2 rata-rata item pada dasarnya hanyalah kehadiran satu SKU, rentan terhadap delisting jika item tunggal itu berkinerja buruk. Sebuah merek dengan 2,5 rata-rata item tetapi hanya 30% ACV memiliki depth yang kuat di tempat ia berada, tetapi tidak terlihat di sebagian besar pasar.
TDP menangkap kedua dimensi tersebut. Ini menjawab pertanyaan: "Berapa besar total bobot distribusi yang dimiliki merek ini?"
Keputusan-keputusan yang dipandu oleh TDP:
Skenario: Tiga merek kopi yang bersaing di pasar yang sama:
| Merek | ACV Distribution | Avg Items Carried | TDP | Interpretasi |
|---|---|---|---|---|
| Brand Alpha | 85% | 3,2 | 272 | Reach luas, depth moderat |
| Brand Beta | 55% | 5,8 | 319 | Reach sempit, depth kuat |
| Brand Gamma | 92% | 1,4 | 129 | Reach luas, sangat dangkal |
Apa yang diungkapkan oleh angka-angka ini:
Brand Alpha adalah pemain yang seimbang, hadir di sebagian besar toko dengan range yang cukup memadai. Tantangan mereka: penambahan ACV secara inkremental mahal karena sisa 15% tersebut kecil dan sulit dilayani. Lebih baik mendorong AIC dari 3,2 menjadi 4,0.
Brand Beta memiliki TDP tertinggi meskipun ACV-nya lebih rendah. Mereka terkonsentrasi di peritel besar dengan assortment lengkap. Peluang mereka: memperluas ACV dengan memasuki chain kelas menengah yang akan menyambut baik range mereka yang kuat.
Brand Gamma terlihat tersebar luas (ACV 92%!) tetapi TDP mengungkap kebenarannya. Sebagian besar toko hanya menyetok satu SKU. Ini adalah merek "listing fee": ter-listing di mana-mana, tetapi disetok secara minimal. Prioritas mereka: mengonversi listing menjadi assortment aktif dengan menunjukkan sell through pada SKU andalan mereka.
TDP dari waktu ke waktu sama-sama mengungkapkan banyak hal. Jika TDP Anda tumbuh dari 200 menjadi 240 dalam 6 bulan, Anda perlu mendekomposisi pertumbuhannya: apakah ACV yang membaik (toko baru), atau apakah AIC yang membaik (lebih banyak SKU per toko)? Jawabannya menentukan langkah Anda selanjutnya.
TDP = ACV Distribution % × Average Items Carried
Contoh:
TDP maksimum yang mungkin dicapai = 100 (ACV) × jumlah SKU dalam range Anda. Jika Anda memiliki 10 SKU, TDP maksimumnya adalah 1.000. Sebagian besar merek beroperasi pada 20 hingga 40% dari maksimumnya, yang menunjukkan bahwa selalu ada ruang untuk bertumbuh.
Kesalahan #1: Mengejar TDP dengan mengorbankan profitabilitas.
Menambahkan SKU untuk mendongkrak AIC, dan karenanya TDP, hanya berhasil jika SKU tersebut benar-benar terjual. Dead stock menggelembungkan TDP tetapi menghancurkan margin melalui retur, write off, dan frustrasi peritel. Setiap penambahan SKU harus dibenarkan oleh data permintaan konsumen.
Kesalahan #2: Membandingkan TDP antar kategori.
TDP bersifat spesifik per kategori. TDP sebesar 300 berarti sesuatu yang berbeda dalam kopi (di mana 8 hingga 10 SKU adalah hal normal) dibandingkan dalam deterjen cuci (di mana 25+ SKU adalah hal yang umum). Bandingkan TDP hanya dalam kategori yang sama.
Kesalahan #3: Mengabaikan perbedaan antara AIC dan AIS.
Average Items Carried menghitung semua yang telah di-listing peritel. Average Items Selling hanya menghitung item yang benar-benar tercatat scanning di POS. Jika AIC adalah 5 tetapi AIS adalah 2, Anda memiliki 3 SKU yang tertahan di gudang belakang atau di rak tanpa bergerak. Kesenjangan antara AIC dan AIS adalah tanda bahaya bagi kualitas assortment.
Kesalahan #4: Memperlakukan TDP sebagai metrik yang terlambat (lagging).
TDP berubah secara perlahan. Ini adalah ukuran stock, bukan flow. Pada saat TDP bergeser, keputusan distribusi sebenarnya sudah dibuat berminggu-minggu atau berbulan-bulan sebelumnya. Tim terkemuka melacak indikator utama (leading indicators): persetujuan listing, pesanan pertama, activation rate, dan velocity per SKU, yang memprediksi ke mana arah TDP akan bergerak.
Global: TDP digunakan di seluruh dunia di mana pun data ritel syndicated (Nielsen, Circana, Kantar) tersedia.
Tim komersial terkemuka mendekomposisi TDP menjadi komponen-komponennya setiap bulan untuk mendiagnosis kesehatan distribusi. Mereka menetapkan target terpisah untuk ekspansi ACV dan pertumbuhan AIC, memberikan tanggung jawab kepada tim yang berbeda (new business development mendorong ACV; range selling mendorong AIC), dan melacak kesenjangan antara TDP dan TDP potensial maksimum untuk mengukur peluang yang tersisa.
Tim-tim terbaik memasangkan TDP dengan data velocity untuk memisahkan pertumbuhan distribusi yang sesungguhnya dari listing yang kosong. TDP yang meningkat dan didukung pertumbuhan AIS yang kuat berarti kehadiran nyata di rak. TDP yang meningkat dengan AIS yang datar berarti SKU sedang menumpuk di gudang belakang, sebuah masalah yang menyamar sebagai kemajuan.
Lighthouse menghubungkan distribusi, eksekusi, perdagangan, dan pasokan ke dalam satu sistem yang dapat langsung ditindaklanjuti oleh tim komersial Anda di tingkat toko dan SKU.
Minta demo