Istilah CPG Dijelaskan, sebuah seri oleh Cyril Ovely
ACV Distribution % mengukur persentase total volume penjualan pasar yang terjadi di toko-toko yang menjual produk Anda, dibobotkan berdasarkan total penjualan setiap toko di seluruh kategori.
ACV Distribution % menjawab satu pertanyaan spesifik: dari semua penjualan yang terjadi di pasar ini, berapa persen yang terjadi di toko-toko yang menjual produk saya? Metrik ini mengambil konsep All Commodity Volume (ACV) dan mengubahnya menjadi metrik distribusi.
Berbeda dengan numeric distribution yang sekadar menghitung jumlah toko, ACV Distribution % memberi bobot pada setiap toko berdasarkan total volume penjualannya. Sebuah toko dengan penjualan tahunan $50 juta diperhitungkan jauh lebih besar daripada toko dengan penjualan $500K. Hasilnya adalah ukuran yang mencerminkan di mana aktivitas pasar yang sesungguhnya terjadi.
Inilah masalah yang dipecahkan oleh ACV Distribution %. Bayangkan dua brand dengan numeric distribution yang identik:
| Merek | Toko Tempat Terdaftar | Tipe Toko | Numeric Distribution | ACV Distribution % |
|---|---|---|---|---|
| Brand A | 500 | Sebagian besar toko independen kecil | 70% | 35% |
| Brand B | 500 | Sebagian besar chain supermarket besar | 70% | 82% |
Jumlah toko yang sama. Numeric distribution yang sama. Cakupan pasar yang sama sekali berbeda. Brand B hadir di tempat 82 persen penjualan pasar terjadi. Brand A hadir di tempat hanya 35 persen yang terjadi.
Inilah sebabnya ACV Distribution % adalah metrik yang benar-benar digunakan oleh commercial director untuk pengambilan keputusan. Metrik ini memberi tahu Anda apakah distribusi Anda menjangkau outlet-outlet yang benar-benar penting.
Keputusan-keputusan yang didukung oleh ACV Distribution %:
Skenario: Sebuah brand dairy melacak ACV Distribution %-nya selama empat kuartal:
| Kuartal | Numeric Distribution | ACV Distribution % | Apa yang Terjadi |
|---|---|---|---|
| Q1 | 55% | 72% | Baseline. Kuat di chain-chain besar. |
| Q2 | 62% | 74% | Menambahkan 80 toko kecil. Numeric naik, ACV nyaris tidak bergerak. |
| Q3 | 63% | 81% | Masuk listing di 2 chain regional baru. Lonjakan ACV besar. |
| Q4 | 65% | 83% | Pertumbuhan berlanjut di retailer mid-tier. |
Apa yang diungkapkan oleh angka-angka ini:
Di Q2, tim merayakan penambahan 80 toko (numeric naik dari 55% menjadi 62%). Tetapi ACV nyaris tidak bergerak (72% menjadi 74%) karena toko-toko itu adalah outlet kecil dengan volume penjualan rendah. Usahanya nyata, tetapi dampak pasarnya minimal.
Di Q3, hanya dengan menambahkan dua chain regional, ACV bergerak dari 74% menjadi 81%. Kedua chain itu menyumbang 7 persen dari total penjualan pasar. Inilah kekuatan cara berpikir berbobot ACV: beberapa akun besar bisa lebih berarti daripada ratusan akun kecil.
ACV Distribution % = (Jumlah bobot ACV dari toko yang menjual produk Anda / Total ACV pasar) x 100
Contoh: Jika toko-toko yang menjual brand Anda memiliki gabungan bobot ACV sebesar 7.500 dan total ACV pasar adalah 10.000, maka ACV Distribution % Anda = 75%.
Kesalahan #1: Melaporkan ACV Distribution % tanpa numeric distribution.
ACV Distribution % memberi tahu Anda kualitas cakupan Anda. Numeric distribution memberi tahu Anda keluasannya. Anda memerlukan keduanya. Sebuah brand dengan ACV 90% tetapi numeric 25% terkonsentrasi di beberapa chain besar. Sebuah brand dengan ACV 40% tetapi numeric 80% tersebar tipis di toko-toko kecil. Tak satu pun gambaran ini lengkap dengan sendirinya.
Kesalahan #2: Memperlakukan ACV Distribution % sebagai target yang statis.
Pasar selalu berubah. Toko baru dibuka. Toko yang ada tumbuh atau menyusut. Seorang kompetitor keluar dari pasar. ACV Distribution % Anda akan bergeser bahkan jika Anda tidak melakukan apa-apa. Lakukan rebaseline setidaknya setiap kuartal.
Kesalahan #3: Mengacaukan ACV Distribution % dengan distribusi kategori.
ACV memberi bobot pada toko berdasarkan total penjualannya di seluruh produk, bukan hanya kategori Anda. Sebuah toko bisa memiliki ACV tinggi namun relevansi rendah terhadap kategori spesifik Anda. Untuk distribusi spesifik kategori, lihat ukuran berbobot kategori atau TDP.
Kesalahan #4: Menggunakan ACV Distribution % untuk mengukur kualitas eksekusi.
ACV Distribution % memberi tahu Anda bahwa toko-toko sudah me-listing produk Anda. Metrik ini tidak memberi tahu apakah toko-toko itu benar-benar memesan, apakah produknya ada di rak, atau apakah harganya sudah benar. Untuk kualitas eksekusi, Anda memerlukan activation rate, on shelf availability, dan metrik compliance.
Global: ACV Distribution % digunakan di mana pun data ritel syndicated tersedia, tetapi kualitas datanya bervariasi:
Tim komersial terkemuka melacak ACV Distribution % setiap minggu atau bulan, diuraikan berdasarkan channel, wilayah, dan distributor. Mereka menetapkan target terpisah untuk pertumbuhan ACV (masuk ke toko yang lebih besar) dan pertumbuhan numeric (masuk ke lebih banyak toko), dan memberikan tanggung jawab kepada tim yang berbeda. Mereka menggabungkan ACV Distribution % dengan data activation rate untuk membedakan toko yang hanya me-listing produk dengan toko yang benar-benar menjualnya.
Lighthouse menghubungkan distribusi, eksekusi, trade, dan supply ke dalam satu sistem yang dapat ditindaklanjuti oleh tim komersial Anda hingga level toko dan SKU.
Ajukan demo