Istilah CPG Dijelaskan, sebuah seri oleh Cyril Ovely
Tertiary sales adalah penjualan dari peritel ke konsumen akhir. Juga disebut consumer offtake atau retail sell out, tertiary sales merepresentasikan ukuran permintaan konsumen yang paling murni karena mencerminkan apa yang benar-benar dibeli oleh pembelanja.
Tertiary sales adalah mata rantai terakhir dalam rantai penjualan CPG: penjualan dari peritel ke konsumen. Ketika seorang pembelanja mengambil produk dari rak dan membayarnya di kasir, itulah tertiary sale. Inilah momen kebenaran (moment of truth) bagi seluruh rantai pasok.
Dalam model penjualan tiga tingkat yang digunakan di India dan pasar berkembang: primary sales (manufaktur ke distributor), secondary sales (distributor ke peritel), dan tertiary sales (peritel ke konsumen), tertiary adalah satu-satunya yang mencerminkan konsumsi konsumen yang sesungguhnya. Semua yang ada di hulu hanyalah prediksi dari penjualan akhir tersebut.
Tertiary sales adalah sinyal permintaan yang seharusnya menggerakkan seluruh rantai pasok. Ketika tertiary sales kuat, primary dan secondary sales seharusnya mengikuti secara alami. Ketika tertiary sales lemah namun primary sales kuat, channel sedang "dijejali" (stuffed) dengan produk yang tidak diinginkan konsumen.
Rantai penjualan lengkap:
| Level | Transaksi | Apa yang Diukur | Sumber Data |
|---|---|---|---|
| Primary | Manufaktur → Distributor | Pendapatan manufaktur | ERP Manufaktur |
| Secondary | Distributor → Peritel | Aliran channel | Catatan distributor |
| Tertiary | Peritel → Konsumen | Permintaan konsumen yang sesungguhnya | Data POS scanner |
Di pasar maju (AS, Inggris), data tertiary sales tersedia secara luas melalui data scanner tersindikasi dari Nielsen, Circana, dan Kantar. Setiap pemindaian barcode di kasir tercatat dan diagregasi. Di pasar berkembang, data tertiary sales lebih sulit diperoleh karena sebagian besar ritel adalah traditional trade dengan teknologi POS yang terbatas.
Skenario: Sebuah merek snack menganalisis seluruh rantai penjualan untuk peluncuran produk baru:
| Bulan | Primary (case) | Secondary (case) | Tertiary (case) | Daya Tarik Konsumen |
|---|---|---|---|---|
| Bulan 1 | 5.000 | 3.500 | 2.000 | Lemah |
| Bulan 2 | 5.000 | 4.000 | 3.000 | Tumbuh |
| Bulan 3 | 4.000 | 4.500 | 4.200 | Kuat |
| Bulan 4 | 4.500 | 4.800 | 4.700 | Sehat |
Pada Bulan 1, primary sales tinggi (merek mendorong produk masuk ke channel) namun tertiary sales rendah (konsumen belum membeli). Channel sedang membangun inventori. Pada Bulan 3, tertiary sales telah mengejar ketertinggalan dan channel menjadi sehat: primary, secondary, dan tertiary semuanya selaras di kisaran 4.000 hingga 4.500 case. Ini adalah pola yang digerakkan oleh permintaan (demand driven).
Jika tertiary sales tetap berada di angka 2.000 sementara primary terus berada di 5.000, merek tersebut akan menghadapi masalah channel stuffing pada Bulan 3: distributor menahan inventori yang belum terjual, yang berujung pada retur dan erosi margin.
Kesalahan #1: Tidak mengukur tertiary sales sama sekali.
Banyak perusahaan CPG di pasar berkembang hanya melacak primary dan secondary sales. Tanpa data tertiary, mereka tidak dapat membedakan antara permintaan konsumen yang sesungguhnya dan penumpukan inventori di channel. Hal ini menyebabkan siklus boom-bust berupa overproduksi yang diikuti pembatalan pesanan.
Kesalahan #2: Menganggap secondary sales sama dengan tertiary sales.
Secondary sales (distributor ke peritel) adalah proxy untuk permintaan konsumen, bukan ukuran langsungnya. Produk bisa saja tertahan di gudang belakang peritel selama berminggu-minggu sebelum terjual. Kesenjangan antara secondary dan tertiary adalah inventori peritel, dan jumlahnya bisa signifikan.
Kesalahan #3: Menggunakan data tertiary terlalu terlambat.
Data tertiary sales dari panel tersindikasi seringkali memiliki lag 2 hingga 4 minggu. Pada saat Anda melihat datanya, tren tersebut sudah mulai terjadi. Merek-merek terkemuka melengkapi data panel dengan sinyal real time: secondary sales distributor, audit tingkat toko, dan data quick commerce.
Kesalahan #4: Tidak menindaklanjuti sinyal tertiary.
Bahkan ketika perusahaan memiliki data tertiary sales, mereka seringkali gagal menghubungkannya dengan keputusan produksi dan distribusi. Sinyal permintaan seharusnya mengalir mundur melalui rantai: tertiary menggerakkan perencanaan secondary, yang kemudian menggerakkan jadwal produksi primary.
Global: Pengukuran tertiary sales bervariasi menurut tingkat kematangan pasar:
Merek-merek terkemuka menggunakan tertiary sales sebagai jangkar bagi seluruh proses demand planning mereka. Mereka mengintegrasikan data POS scanner dengan secondary sales distributor dan data quick commerce untuk membangun gambaran real time tentang permintaan konsumen. Sinyal permintaan ini menggerakkan perencanaan produksi, alokasi distribusi, dan investasi promosi. Merek-merek yang berhasil menutup lingkaran dari tertiary sales kembali ke produksi primary adalah mereka yang terhindar dari channel stuffing tanpa pernah kehilangan peluang penjualan.
Lighthouse menghubungkan distribusi, eksekusi, trade, dan supply ke dalam satu sistem yang dapat ditindaklanjuti oleh tim komersial Anda hingga level toko dan SKU.
Ajukan demo